Pengakuan UNESCO buat Batik Bagaikan Pisau Bermata Dua

Di masa saat ini, rasanya batik terus menjadi disukai warga besar. Batik tidak lagi ditatap bagaikan suatu yang kuno, melainkan istimewa. Sebagian orang juga telah menggunakan batik seperti pakaian tiap hari.

Ketertarikan warga kepada batik pasti tidak bebas dari aduk tangan produsen batik. Mereka bersaingan menghasilkan corak batik terkini dengan motif yang terang. Tidak cuma itu, bagian pakaian yang dijual pula terus menjadi modern.

” Itu berarti peluang batik di era depan hendak amat luar lazim,” ucap Nita Kenzo pada CNNIndonesia. com, di kegiatan Batik Mode Week 2016 di Jakarta, belum lama ini.

Opsi REDAKSI

Batik: Kain Peradaban Bangsa, Bukan Kain Tradisional

Batik, Kiprah Si Penggawa vs Ketidakpahaman Awam

Hari Batik: Momentum Mawas diri Menguasai Batik

Beliau meningkatkan,” Terlebih sehabis pencanangan 2 Oktober bagaikan Hari Batik Nasional, penguasa mengharuskan dalam satu minggu wajib terdapat batik dalam satu hari. Apalagi terdapat yang 2 hari[dalam seminggu], serta terdapat pula yang 6 hari gunakan batik kemudian satu hari gunakan pakaian leluasa.”

Baginya, perihal itu bisa dijadikan senjata buat memantapkan pabrik batik, juga membangkitkan batik di semua Indonesia.

Perempuan yang saat ini berprofesi bagaikan Pimpinan Yayasan Batik Indonesia ini pula berterus terang besar hati memandang banyak provinsi di Indonesia yang mulai membuat corak batik dengan karakteristik khasnya tiap- tiap.

” Sementara itu tadinya enggak memiliki batik,” tuturnya.” Tetapi setelah itu mereka membuat batik dari hasil kota mereka serta itu merupakan suatu independensi untuk provinsi mereka sebab tidak butuh lagi membeli batik dari wilayah lain.”

Tidak hanya itu, tambahnya, penciptaan batik dari tiap- tiap wilayah dianggapnya dapat kurangi nilai kekurangan dan pengangguran karena warga mempunyai alun- alun profesi terkini. Apalagi, bila dipelajari lebih lanjut, jadi perajin batik pula bisa memudahkan bobot ekonomi keluarga.

” Tetapi butuh diketahui,” ucapnya sungguh- sungguh,” kita wajib senantiasa mendahulukan batik adat- istiadat[batik catat serta batik cap]. Itu yang penting. Dikala ini serbuan printing pula luar lazim.”

Nita berpikiran kalau apresiasi yang diserahkan oleh UNESCO itu bagaikan pisau bermata 2. Alasannya, di satu bagian apresiasi itu membagikan antusias yang luar lazim pada produsen batik printing. Tetapi, di bagian lain malah membuat penciptaan batik adat- istiadat terus menjadi terperosok.

Buat itu, salah satu metode yang beliau maanfaatkan buat melestarikan batik adat- istiadat merupakan dengan program Batik Buatan Aku yang diselenggarakan dalam kegiatan Hari Batik Nasional. Di program itu, Yayasan Batik Indonesia membagikan sanggar kerja membatik pada 50 anak didik bidang aturan pakaian di Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) 27 Jakarta.

” Dengan sedemikian itu, mereka hendak ketahui mana yang batik serta mana yang bukan, tanpa wajib memandang prosesnya. Sebab batik itu bukan barang, melainkan cara pembuatan,” nyata Nita.” Jadi jika mau anak cinta dengan batik, hingga wajib paham prosesnya semacam apa.”

Tinggalkan komentar

WhatsApp us whatsapp
Telepon
Whatsapp